Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa kesehatan hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rupa hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
ya allah jadikanlah hati ini hati yang selalu bersyukur atas takdir baik dan burukmu,
ya jadikanlah hati ini selalu beristighfar kepadamu,ya allah ampunkanlah kami
mutiara dalam kata
Hidup mengajari kita tentang makna bersyukur di fajar hari, juga tentang kerja keras diterik siang. Tersenyum saat senja menjelang, serta merasa damai ketika terlelap dalam malam. Dia tahu lelahnya ragamu hari ini. Dia juga tahu berkurangnya jatah santai yang harus kau nikmati. Dia sangat tahu, bahkan lebih dari yang kau tahu.
Senin, 16 Mei 2011
Rabu, 11 Mei 2011
Selasa, 10 Mei 2011
DO'A UNTUK IBU
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Astaghfirullahal Adhiim
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Astaghfirullahal Adhiim
Kamis, 05 Mei 2011
sayang ibu
bismillahirohmanirrohim
hari ini adalah hari jum'at,pada saat ini jam menunjukkan jam 15.00 petang,ketika sholat jum'at tadi terdengar khutbah yang agak menarik tuk didengar membuat saya ingin menulis sesuatu tentang apa yang saya dengar,isi khutbah tadi menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu,hal ini membuat saya teringat akan ibu yang jauh dimata.
beberapa hari yang lalu saya menelpon ibu saya,saya menanyakan boleh tak hari raya ini saya tidak balek kampong,mungkin ia tahu sebab saya tidak dapat pulang sehingga ia mengizinkan apa yang saya pinta namun entah kenapa hati ini merasakan kecewa yang ia rasakan,
saya teringat akan sebuah hadist"
nabi muhammad s.a.w bersabda "Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina." sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga." (HR. Muslim no. 2551)
hadist ini membuat saya termenung,mana tidaknya seandainya saya jauh dari orang tua saya tentulah saya tidak dapat berkhitmad kepadanya dan saya termasuk orang yang terhina seperti hadist diatas,
sebelum saya pergi saya berjanji dengan ibu bahwa saya hanya sebentar tuk meninggalkanya dan akan kembali sebelum bulan ramadhan,tapi keadaan memaksa saya tuk merubah janji itu,setelah mendengar khutbah itu membuat saya berfikir kembali tentang niat saya,akhirnya saya memutuskan untuk balek kampung ^_^
owh ya saya teringat akan kata mutiara “Engkau merdeka dari sesuatu yang tidak engkau inginkan dan menjadi pengemis dari sesuatu yang kau harapkan.”
hanya ini yang dapat saya tulis sebab saya tak tau nak tulis apa lagi,semoga apa yang saya tulis menjadi bermanpaat bagi yang membaca dan semoga apa yang saya tulis menjadi amal zariyah bekal menuju surganya,
Wallahul Musta`an.
Jazakhumullahu khairan katsiran.
hari ini adalah hari jum'at,pada saat ini jam menunjukkan jam 15.00 petang,ketika sholat jum'at tadi terdengar khutbah yang agak menarik tuk didengar membuat saya ingin menulis sesuatu tentang apa yang saya dengar,isi khutbah tadi menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu,hal ini membuat saya teringat akan ibu yang jauh dimata.
beberapa hari yang lalu saya menelpon ibu saya,saya menanyakan boleh tak hari raya ini saya tidak balek kampong,mungkin ia tahu sebab saya tidak dapat pulang sehingga ia mengizinkan apa yang saya pinta namun entah kenapa hati ini merasakan kecewa yang ia rasakan,
saya teringat akan sebuah hadist"
nabi muhammad s.a.w bersabda "Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina." sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga." (HR. Muslim no. 2551)
hadist ini membuat saya termenung,mana tidaknya seandainya saya jauh dari orang tua saya tentulah saya tidak dapat berkhitmad kepadanya dan saya termasuk orang yang terhina seperti hadist diatas,
sebelum saya pergi saya berjanji dengan ibu bahwa saya hanya sebentar tuk meninggalkanya dan akan kembali sebelum bulan ramadhan,tapi keadaan memaksa saya tuk merubah janji itu,setelah mendengar khutbah itu membuat saya berfikir kembali tentang niat saya,akhirnya saya memutuskan untuk balek kampung ^_^
owh ya saya teringat akan kata mutiara “Engkau merdeka dari sesuatu yang tidak engkau inginkan dan menjadi pengemis dari sesuatu yang kau harapkan.”
hanya ini yang dapat saya tulis sebab saya tak tau nak tulis apa lagi,semoga apa yang saya tulis menjadi bermanpaat bagi yang membaca dan semoga apa yang saya tulis menjadi amal zariyah bekal menuju surganya,
Wallahul Musta`an.
Jazakhumullahu khairan katsiran.
Langganan:
Postingan (Atom)