mutiara dalam kata

Hidup mengajari kita tentang makna bersyukur di fajar hari, juga tentang kerja keras diterik siang. Tersenyum saat senja menjelang, serta merasa damai ketika terlelap dalam malam. Dia tahu lelahnya ragamu hari ini. Dia juga tahu berkurangnya jatah santai yang harus kau nikmati. Dia sangat tahu, bahkan lebih dari yang kau tahu.

Senin, 13 Juni 2011

KESEMPURNAAN CINTA SEORANG WANITA

Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih meng...gelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.


“Tsabita.. Tsabita..” Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya, dia amati wajah teduh pemilik suara. Perempuan itu tidak bermimpi. Dia dalam keterjagaan yang sempurna. “Tsabita…” Nama itu kembali terucap dari lelaki di sampingnya. Begitu lirih. Begitu dalam. Begitu.., ah tak mampu ia menggambarkannya. Wanita itu tercekat. Airmata begitu saja menderas dari kedua matanya. Dadanya teramat sesak. Bumi seakan ditindihkan di atasnya. Rasa sakit yang begitu dalam menjajah hatinya. Sakit. Sakit sekali. Sakit yang takkan bisa dilukis dengan sempurna oleh kata.


Dia mencoba menguasai dirinya. Tapi ia gagal. Isaknya semakin menjadi. Tubuhnya berguncang menahan keterguguan. Kemudian dengan bersegera ia meninggalkan tempat tidurnya. Khawatir jika lelaki pemilik sumber suara itu terbangun karenanya. Kran ia nyalakan. Suara air bergemericik mengalahkan isaknya. Dia terduduk lunglai di sana. Di dalam kamar mandi yang berada di luar kamar tidurnya. Maka menjadilah tangisnya. Yang dengannya, ia ingin mengeluarkan segala bongkah-bongkah pengganjal perasaannya. Ia ingin menjadikan air matanya itu sebagai hujan yang mengurai habis gumpalan mendung kelam yang ada di hatinya.


Setelah seperempat putaran jam, barulah ia mulai bisa mengendalikan dirinya. Kejernihan hati mulai mengikis masuk dalam kebuntuan akal yang tadi rapat tertutup jerat emosi kewanitaannya. Perlahan ia beranjak mendekati kran. Menangkupkan kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya meresap hingga ke dalam hatinya. Ia ingin membuang segala perasaan marah, sedih, kecewa dalam tetesan air suci yang mengurai dari setiap pori anggota wudhunya. Dan kini wanita itu tersungkur dalam sujud panjangnya.


Isakan itu menjadi lagi. “Subhaana Rabbiyal a’laa.. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.. Maha Suci Engkau Ya Rabb.. Sungguh wanita penuh dosa ini kembali lagi mencari kesempurnaan dalam mata air Kesucian-Mu.. Dan dalam kekerdilan dan kerapuhan diri ini, izinkan hamba berlindung dalam Ketinggian dan Kesempurnaan cinta yang utuh menjadi milik-Mu..” Setelah salam dilafadzkan. Tertengadah kedua tangannya mengharap kucur Cinta-Nya. Tangan itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup doa yang diucap oleh lisannya dalam keterbataan isak kata.


“Ya Rabbiy, Wahai Dzat Pemilik hati dan jiwa ini.. Hamba berserah pasrah kepadamu. Terhadap urusannya. Terhadap hatinya. Karena hanya Engkau yang berhak mengaruniakan cinta. Walaupun seluruh manusia mengeluarkan perbendaharaan hartanya untuk membantuku menebus cinta lelaki itu,, maka hamba tahu hal itu mustahil tanpa kehendak-Mu..” “Ya Rahman, sungguh hamba telah menjadikan Engkau sebagai wali dari setiap urusan hamba.. Hamba bermohon dengan segala Kemahabesaran-Mu agar Engkau berkenan melapangkan hati hamba.. Menyamuderakan cinta hamba.. Meluaskan kemaafan dan kesyukuran hamba.. Hingga hamba sanggup menerima segala beban penggelayut jiwa ini dengan segala sikap dan amalan yang Engkau Ridhoi saja.. Tanpa dengan kecemburuan yang membuta..Tanpa dengan kemarahan yang membara.. Tanpa dengan kekecewaan yang mematikan rasa.. Dan dengan tanpa mengurangi bakti dan kecintaan hamba pada suami hamba.. Ridhokan hamba atas apa yang mampu ia berikan pada hamba. Jangan jadikan hamba wanita yang tidak bisa mensyukuri pemberiannya. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya..” Tercekat suara wanita itu. Ia biarkan air matanya meneruskan setiap doa yang masih ingin ia panjatkan setelahnya.. Dan tanpa sadar ia pun tertidur dalam kelelahan jiwa raga.


Suara alarm dari kamar tidurnya membangunkan wanita itu untuk kali kedua. Dia pun beranjak dari mushalla kecilnya dan bersegera menuju kamarnya. Lelaki yang telah menjadi suaminya selama hampir empat tahun itu masih pulas tertidur di sana. Terlalu lelah sepertinya, hingga suara alarm tak berhasil membangunkannya seperti sepertiga malam lainnya. Wanita itu menatap dalam-dalam ke wajah itu. Air mata yang ingin menyeruak, ia tahan sekuatnya. Ia takkan menangis di depan imamnya. Lelaki luar biasa. Lelaki terbaik yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Yang dalam tiga tahun masa panjang pernikahannya tak pernah sedikit pun kata-kata kasar meluncur dari bibirnya. Yang selalu menjaganya dengan penjagaan sempurna. Yang selalu menerima segala kekurangannya tanpa menghakimi dan mencari pembandingnya. Yang menumbuhkannya dengan ilmu dan menuntunnya untuk selalu menjadi muslimah yang semakin dewasa keimanannya dan semakin indah akhlaqnya dari waktu ke waktu. Wanita itu ingin selalu mensyukuri setiap hal yang suaminya telah beri. Ia tahu bahwa suaminya senantiasa mengusahakan yang terbaik untuknya. Apapun segala kebaikan yang bisa diberikan oleh lelaki itu, selama ini telah ia terima dengan sempurna. Namun malam ini wanita itu terantuk pada kenyataan, bahwa hati lelaki itu bukanlah untuknya.


Kecintaan lelaki itu bukanlah miliknya. Walaupun sesaat lalu dia masih dalam keyakinan bahwa dialah ratu hati lelaki itu. Yang kemudian baru saja ia tersadar bahwa itu hanyalah fatamorgana semu. Tsabita.. Perempuan masa lalu itu ternyata masih menempati ruang tertinggi di hati lelaki berwajah teduh ini. Perempuan yang namanya tidak pernah tersebut dalam lisan suaminya di waktu sadarnya selama masa panjang bilangan tahun pernikahannya. Perempuan yang ia yakini bahwa suaminya telah mengusahakan segala hal yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkannya dari hati, agar hanya ia satu-satunya wanita yang menempati singgasana dalam jiwa si lelaki. Dan wanita itu sadar, bukan salah suaminya jika pada akhirnya ia tidak mampu. Bukan salah lelaki itu jika cinta untuk perempuan itu masih melekat dengan erat di palung sukmanya. Sungguh bukan salahnya. Karena hak Dia seutuhnya untuk mengaruniakan cinta kepada apa dan sesiapa yang menjadi Kehendak-Nya. Yah, rasa sakit itu ada. Kecemburuan yang begitu dalam pun telah sangat menyiksanya.


Namun wanita ini segera tersadar, bahwa dulu sebelum ia menerima pinangan si lelaki, ia telah mengetahui resiko ini. Lelaki ini berkata jujur padanya akan semua masa lalunya sejak awal kedatangannya. Dan waktu itu, wanita ini telah menyalakan azzam untuk menerima segala konsekuensi atas pilihannya. Dan kini saatnya ia harus membuktikan semuanya. Perlahan ia dekati sosok itu. Ia cium keningnya. Takzim. Sebagaimana suaminya selalu melakukannya saat membangunkannya. Lelaki itu membuka matanya. Tersenyum padanya. Perlahan bangkit dari posisi tidur dan berdiri menjajari istrinya. “Yah, keduluan Ummi deh bangunnya. Afwan ya Sayang..” canda lelaki itu sambil meraih kepala istrinya. Membalas mencium kening wanita itu. “Ga papa juga dong sekali-kali Ummi yang dapat pahala membangunkan. Masa Abi terus yang memborong pahala..” wanita itu tersenyum manja, menggelayut tangan suaminya. “Yee, ga mau kalah ni ceritanya? Baiklah, besok-besok Ummi terus aja deh yang bangunin. Abi sih rela-rela aja setiap pagi dibangunkan oleh kecupan seorang bidadari..” sambil mengelus kepala istrinya. “Ogah ah. Ntar Abi ngrasa jadi sleeping beauty lagi. Eh sleeping handsome ding.. hehe.. ” “And the beast.. hehehe..” Mereka tertawa bersama “Eh Mi, Ummi habis nangis? Matanya kok sembab gitu?” Lelaki itu tiba-tiba menghentikan tawanya. Wanita itu diam sejenak. Berpikir bagaimana harus menjawabnya. Tapi senyumnya masih ia kembangkan, untuk menutupi segala kebingungan. “Yah ketahuan ya? Iya Bi, Ummi tadi udah mencuri start shalat malam duluan. Tapi baru 2 rakaat kok. Ummi menangis karena Ummi tiba-tiba tersadar, betapa baiknya Allah sama Ummi. Mengaruniakan seorang lelaki luar biasa.. Lelaki surga.. Ah udah Bi, buruan ambil wudhu gih..” “Hffh.. Abi yang harus jauh lebih banyak bersyukur kepada Allah Mi.. Karena Allah telah mengizinkan Abi untuk didampingi seorang wanita yang sebaik dan seindah Ummi..” Menatap dalam-dalam ke mata wanita itu. Kemudian sekali lagi mencium keningnya dan segera beranjak mengambil air wudhu. Di sepertiga malam terakhir itu, wanita tersebut meminta imamnya agar membaca surat Ar-Rahman. Fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seiring berulangnya kalimat itu dilafadzkan, semakin tergugu mereka berdua tenggelam dalam kedalaman maknanya.


Semakin mereka merasa begitu kecil di hadapan Rabb-Nya. Hingga sebelum selesai surat itu dibaca pada rakaat pertama, lelaki itu sudah kehilangan suaranya. Tertelan oleh airmata yang mengalir tanpa bisa ditahannya. Membanjir memenuhi tenggorokannya. Dan akhirnya mereka berdiri dalam diam. Hanya isak mereka berdua yang terdengar semakin keras mengguncang. Ya Rabb, ampuni kesyukuran kami yang hanya setetes saja, padahal Engkau telah memberikan kami nikmat yang luas menyamudera… Maafkan Ya Rahman.. Maafkan..

Selasa, 07 Juni 2011

COBAAN YANG SILIH BERGANTI

Dalam hidup dan kehidupan manusia selalu mengalami cobaan demi cobaan.yang sering kali cobaan itu datang silih berganti seakan tiada mengenal putusnya.padahal kalau kita rasakan itu hanya perkiraan bawah sadar kita yang menilai.ah itu kan sudah kodrati manusia tidak tahan dengan cobaan. atau itu sudah lumrah dan biasa.padahal seberat dan sekecil apapun cobaan yang kita rasakan atau orang lain yang meraskan hanya pribadi yang merasakan.ukuran ringan atau beratnya cobaan kan sudah pada maqomnya masing-masing.terlepas Allah memberikan cobaan melebihi atau tidak porsi cobaan itu juga kan hak Allah dalam memberikan sebuah ujian untuk menaikan drajatnya ke kelas yang lebih mulia.Persoalannya adalah kepedulian kita terhadap seseoarang yang membutuhkan pertolongan kita sudah semakin sirna.




Jiwa penolong pada zaman sekarang sudah semakin menipis,kemungkinan sudah terpengaruh budaya kota yang bersifat individualisme.sehingga hancurlah tatanan kepedulian sosial pada sebuah masyarakat.Ilmu dan harta adalah titipan.hakikatnya bukan milik kita.itu milik Allah.jangan sombong dengan keilmuan apapun yang kita punya.apalagi kalau kita sudah merasa memiliki keilmuan makrifat dan kewalian contohnya.




Cobaan menjadi sebuah pelajaran manakala kita kita berubah menjadi baik bukan menjadi bengis terhadap manusia lainnya.Karena sebenarnya di dalam cobaan dan ujian itu tersimpan kasih sayang Allah yang benar-benar tulus kepada hambanya untuk peningkatan ruhaniyyah seseorang di dalam menghadapi estafet kehidupan berikutnya di dunia lebih-lebih pada akhirnya kehidupan di kampung akhirat.Kalau manusia di uji oleh Allah bukan menjadi semakin bener/rusak itu tandanya orang itu akan mendapati hidupnya pada kenistaan dan celaka.Tinggal pilih..mau celaka..apa mau DAMAI DALAM KASIH SAYANG ALLAH?





Ya Allah….Engkau adalah Tuhanku, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku. Dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu… ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. (HR Bukhari)




HANYA KARENA KASIH SAYANG ALLAH LAH KITA HIDUP..

DAN HANYA KARENA AMPUNAN ALLAH LAH KITA BISA MELANJUTKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK LAGI….

Semoga kita termasuk hamba yang di kasihi dan di sayangi oleh Allah…amien.

Senin, 16 Mei 2011

renungan diri

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa kesehatan hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rupa hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

ya allah jadikanlah hati ini hati yang selalu bersyukur atas takdir baik dan burukmu,
ya jadikanlah hati ini selalu beristighfar kepadamu,ya allah ampunkanlah kami

Selasa, 10 Mei 2011

DO'A UNTUK IBU

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.

Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan

dengan kebaikan berlipat ganda.

Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.

****

Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.

Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.

Astaghfirullahal Adhiim

Kamis, 05 Mei 2011

sayang ibu

bismillahirohmanirrohim

hari ini adalah hari jum'at,pada saat ini jam menunjukkan jam 15.00 petang,ketika sholat jum'at tadi terdengar khutbah yang agak menarik tuk didengar membuat saya ingin menulis sesuatu tentang apa yang saya dengar,isi khutbah tadi menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu,hal ini membuat saya teringat akan ibu yang jauh dimata.


beberapa hari yang lalu saya menelpon ibu saya,saya menanyakan boleh tak hari raya ini saya tidak balek kampong,mungkin ia tahu sebab saya tidak dapat pulang sehingga ia mengizinkan apa yang saya pinta namun entah kenapa hati ini merasakan kecewa yang ia rasakan,


saya teringat akan sebuah hadist"
nabi muhammad s.a.w bersabda "Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina." sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga." (HR. Muslim no. 2551)


hadist ini membuat saya termenung,mana tidaknya seandainya saya jauh dari orang tua saya tentulah saya tidak dapat berkhitmad kepadanya dan saya termasuk orang yang terhina seperti hadist diatas,


sebelum saya pergi saya berjanji dengan ibu bahwa saya hanya sebentar tuk meninggalkanya dan akan kembali sebelum bulan ramadhan,tapi keadaan memaksa saya tuk merubah janji itu,setelah mendengar khutbah itu membuat saya berfikir kembali tentang niat saya,akhirnya saya memutuskan untuk balek kampung ^_^


owh ya saya teringat akan kata mutiara “Engkau merdeka dari sesuatu yang tidak engkau inginkan dan menjadi pengemis dari sesuatu yang kau harapkan.”



hanya ini yang dapat saya tulis sebab saya tak tau nak tulis apa lagi,semoga apa yang saya tulis menjadi bermanpaat bagi yang membaca dan semoga apa yang saya tulis menjadi amal zariyah bekal menuju surganya,

Wallahul Musta`an.
Jazakhumullahu khairan katsiran.

Selasa, 26 April 2011

kenapa harus mengeluh jika kita beriman


"bismillah hirrahmanirrohim"

Kala Sapaan dan Nasehat dalam kebenaran tak terjawab, percalah Allah takkan lupa atas kata yang kau ucapkan,

Kala ajakanmu dalam kebaikan terlalaikan, percayalah lelahmu takkan tertinggal dicatat malaikat,

Kala kau menangis atas berat dan perihnya perjuangan dalam menegakkan kebenaran, percayalah Allah takkan lalai menghitung atas tetesan airmatamu,

Kala mereka lari meninggalkanmu percayalah bahwa Allah akan selalu menyertaimu dalam setiap langkah,saudaraku jangan pernah menyerah dalam berjuang dijalan Allah sebab janji allah itu pasti dan yakinlah setiap perbuatan itu akan mendapat balasan dari hal sekecil-kecil hingga sebesar-besarnya.

SaudaraKu.....pada awalnya,
Semua orang bangga dengan pilihannya,tapi pada akhirnya tidak semua orang setia pada pilihannya,Saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti yang diimpikannya,Karena yang tersulit dalam hidup ini, Bukan saja memilih, akan tetapi bertahan pada pilihan,

Seperti itulah surga dan neraka keduanya adalah pilihan
Satu kata yang begitu mudah diucapkan,tapi begitu berat untuk diamalkan,begitulah beratnya coba'an iman,
saudaraku tetaplah
"Istiqamah"

rosulullah bersabda: sesungguhnya iman benar2 bisa menjadi usang didalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. maka memohonlah kepada Alloh supaya memperbaharui iman dihati kalian (HR. Al hakim)

Semoga Allah menganugerahkan kita kesabaran untuk senantiasa teguh dalam pilihan yang diridhaiNya::. amin